little star

little star

Kamis, 11 November 2010

kisah kopi, wortel dan telur inspiratif banget....

Bismillah...

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”
"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. 
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”


“Allah tidak akan membebani suatu kaum melainkan sesuai dengan kesanggpannya” (2:286)

Sungguh, sebenarnya setiap ujian yang Allah berikan semata-mata karena kasih sayangNya pada kita sebagai umat yang diciptakan begitu istimewa olehNya, bagi yang hatinya tidak bebal dan mampu melihat segala kebaikan Tuhannya, husnudzan pada Tuhannya, pada segala ketetapnNya.

Sungguh, jika kita mau sedikit merenung, bahwasanya segala hal yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah proses pembelajaran, saya yakin semua sudah tahu akan hal itu. Namun apakah tahu saja cukup? Coba pahami. 

Yaa... sebuah pembelajaran untuk mendapatkan banyak hal kebaikan dalam hidup. Segala ujian yang terasa berat dirasakan, segala bentuk amanah yang terasa menyesakkan, bahkan terasa berat di pikul, semata-mata hanya sebuah proses pembentukan pribadi sempurna. Sebuah proses untuk mendapatkan pribadi yang sesuai dengan hakikat penciptaan raga ini, pribadi yang istimewa. 


Masalah datang tanpa memilih, kepada yang memohon agar terhindar dari masalah, dan kepada orang yang tak sadar...bahwa perilakunya mengundang masalah.

Sesungguhnya,
Masalah adalah rahmat yang tidak kita sukai,
agar kita meninggalkan yang kita sukai tetapi yang tidak baik bagi kita,agar kita menjadikannya batu pijakan menuju kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan di tempat-tempat yang tinggi.
Mario Teguh


Maka, sahabat, bersyukurlah dengan penat yang kau rasakan, bersyukurlah dengan berat pikulan amanah yang kau tanggung, bersyukurlah dengan tangis yang selalu ingin menyeruak keluar, bersyukurlah dengan hidup yang berjalan monoton, bersyukurlah akan hidup yang telah Allah gariskan, karena yakinlah di balik itu semua Allah telah menyiapkan sejuta kemudahan untuk menjalaninya, bagi yang dapat melihat segala keMahaPemurahan Allah.

“maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang akan kau dustakan?”

Wallahualam Bishawab... 

1 komentar: